zmedia

Indonesia di jaman Melenial dan Modernisme.


Orkestra Alam.


Dalam perjalanan bangsa Indonesia terdapat banyak Peristiwa dan cerita yang telah dituliskan dalam buku-buku sejarah, suka cita mewarnai Panorama Bumi Pertiwi, keberanian dan kecerdasan menjadi Dasar menuju kemerdekaan. Peristiwa masa lalu membawa kita hidup di masa depan, para pendiri bangsa telah berhasil membangunkan Rumah untuk kita agar kelak, anak cucunya tidak tidur di bawah trik Matahari dengan keadaan lapar dan kedinginan. Visi dan misinya dituangkan di dalam Ideologi negara untuk menjadi dasar kita berpijak dan berpikir. Arah dan tujuannya jelas, demi kemakmuran dan kesejahteraan bersama dengan menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan. Fondasi itu yang dibangun di dalam Rumah Merah Putih, dengan harapan generasi berikutnya dapat menjaganya dan melanjutkannya kembali.

Tantangan bangsa saat ini adalah mudah dihegemoni kalau kata Antonio Gramsci, budaya Barat yang masuk lewat Teknologi Informasi membuat kita tidak Original, kita lebih banyak hidup dalam Dunia Maya dengan memakai baju orang lain sehingga kita lupa menjadi diri sendiri. Kurangnya Pengetahuan dan Pengalaman menjadi faktor utama, Pendidikan yang diharapkan bisa melahirkan generasi pembaharu, yang mampu merubah tatanan Sosial malah sebaliknya. Perguruan tinggi yang menjadi rahim Intelektual tidak mampu menyelesaikan persoalan yang terjadi karena sistem Pendidikan kita tidak senergi dengan kehidupan Sosial masyarakat ada sehingga setiap Sarjana yang lahir hanya jadi Penjiblak bukan Pencipta. Akibatnya kita tumbuh menjadi generasi yang Konsumtif bukan Produktif dengan mempraktekkan kehidupan apatis, dan hidup sebagai Induvidu-Induvidu tersendiri. Padahal negeri ini dibangun dengan semangat persatuan dan persaudaraan yang kuat,  yang dibahasakan Soekarno sebagai masyarakat Gotong Royong.

Sudah sepatutnya kita sadari bahwa, kendaraan Ekonomi Kapitalisme dan Emperialisme yang dibawakan oleh bangsa Barat, tidak baik untuk dipakai berkendara di bumi Nusantara karena rata-rata masyarakat Indonesia masih berpendidikan rendah. Akibatnya terjadi perbedaan kelas di tengah-tengah masyarakat, antara yang kaya dengan yang miskin. Dan yang mampu dengan tidak mampu, hal demikian yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya lahirlah masyarakat Feodal dengan menuhankan materi sebagai kiblat  hidupnya, dan melupakan substansi manusia sebagai makhluk yang mulia. Padahal Budaya Indonesia berada dengan Budaya Barat, Indonesia punya ikatan persaudaraan yang kuat dalam Islam sering disebut sebagai Silahturahim. Budaya Silahturahim yang menjadi Senjata bangsa ini mulai terkikis seiring dengan berjalannya waktu sehingga kita mudah diadudomba dan saling hujat menghujat antara satu dengan yang lainnya.

Melihat persoalan yang ada, kalau dibiarkan terus menerus maka akan menjadi Penyakit yang bisa berakibat buruk untuk sebuah negara. Sebagai generasi baru yang modern tentu, menjadi tantangan tersendiri melihat persoalan ini. Namun, dibalik persoalan yang ada bisa kita diambil hikmahnya untuk memperbaiki diri agar kedepannya tidak terulang kembali dengan terus mengevaluasi diri dan belajar untuk menjadi lebih baik. Dalam upaya menyiapkan diri dalam menghadapi masa depan yang modern, tentu Pendidikan dan pengalaman menjadi Dasar utama dan harus dibarengi dengan Pelatihan yang berbasis Teknologi Inovasi dan Kratif. Supaya, menjadi modal untuk kita bekerja atau berwirausaha karena kehidupan di luar Kampus lebih berat dibandingkan dengan kehidupan di waktu masih kuliah.

Sudah banyak Sarjana diluar sana yang bisa menjadi contoh, kalau ijazah saja tidak cukup untuk kita hidup dan mengadu nasib. Jagan sampai kita ikut penambah jumlah pengangguran di negeri ini, yang setiap tahun semakin bertambah. Oleh karena itu sebelum terlambat mari kita belajar dari pengalaman orang-orang yang sebelumnya yang telah berhasil Seperti salah satunya. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan di salah satu Acara TV Catatan Najwa. Ia pernah mengatakan bahwa yang membuatnya seperti ini adalah ketika di waktu kuliah dulu saya tidak hanya belajar di dalam kelas namun, saya juga belajar diluar kelas  dengan mengikuti berbagi macam kegiatan organisasi untuk melatih fokal dan gaya berbicara di muka umum dengan menjadikan panggung organisasi sebagai tempat berdialektika sekaligus melatih kepemimpinannya. Organisasi-organisasi mahasiswa yang ada diluar sana bisa dijadikan panggung untuk kita belajar dan berproses demi menambah pengalaman dan pengetahuan sebelum kita keluar dari kampus atau sudah selesai studi.

Semoga bermanfaat.

Sarifudin Tidore
Mahardika Indonesia.

Albiir.

Post a Comment for "Indonesia di jaman Melenial dan Modernisme."