zmedia

Analisis Rantai Pasokan Agroindutri Kelapa Terpadu

ANALISIS RANTAI PASOKAN - Penulis Suparman Soleman

Struktur  Rantai Pasokan Agroindustri Kelapa Terpadu

foto istimewah

Analisis terhadap rantai pasokan agroindustri kelapa dilakukan secara kualitatif.  Hasil yang diperoleh dari analisis ini adalah gambaran umum struktur rantai pasokan yang dirinci berdasarkan aspek-aspek rantai nilai dan performa rantai pasokan. Sejumlah permasalahan yang dihadapi pelaku rantai pasokan agroindustri kelapa yaitu pemasok, agroindustri pengolah kelapa dan distributor merupakan komponen dalam analisis kebutuhan pendukung yang digunakan dalam perancangan model rantai pasokan.  Secara skematis dapat dilihat pada  gambar di bawah ini :


Gambar 15. Tinjauan Struktur Rantai Pasokan (Van der Vorst 2005)

Tanda panah pada gambar di atas menunjukkan adanya keterkaitan aliran informasi sebagai dasar analisis dalam kerangka proses untuk pembahasan metode pengembangan secara deskriptif.

Tinjauan terhadap struktur rantai pasokan dimulai dari rantai pasokan kelapa butiran untuk bahan baku agroindustri pengolah daging buah kelapa, yang diintegrasikan dengan unit pengolah air kelapa, dan unit pengolah sabut kelapa serta unit pengolah tempurung kelapa. Unit pengolahan untuk produk yang dipilih merupakan hasil pemilihan produk prospektif dengan beberapa kriteria. Penerapan unit pengolahan tersebut di tingkat petani kelapa diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup petani kelapa di suatu kawasan terutama kawasan sentra penghasil kelapa. Masing-masing industri ini memiliki struktur rantai yang relatif serupa. Keserupaan ini terkait dengan struktur jaringan, pelaku dan pola aliran pasokan. Gambaran struktur rantai pasokan pada masing-masing agroindustri kelapa secara parsial ini akan digunakan sebagai dasar untuk menggambarkan skenario pasokan bahan baku untuk agroindustri kelapa yang diusahakan secara terpadu. Sejumlah permasalahan yang dihadapi pelaku rantai pasokan agroindustri kelapa yaitu petani, pedagang pengumpul, pedagang perantara dan agroindustri pengolah kelapa.  Gambaran rantai pasokan secara skematis untuk buah kelapa butiran dari petani, unit pengolah hingga ke konsumen dapat dilihat pada gambar 16 di bawah ini.  

Petani menjual hasil kebunnya masih dalam bentuk produk primer, yaitu kelapa butir dan kopra serta yang dilakukan secara sendiri-sendiri sebelum diusahakan secara terpadu. Harga produk tersebut sangat berfluktuasi dan harganya sering ditentukan secara sepihak oleh pembeli, karena tidak ada pilihan lain  petani tetap menjual hasil kelapanya walaupun berada pada posisi tawar yang lemah. Petani kelapa menjual kelapa hasil panen secara maksimal, buah kelapa yang muda dan buah kelapa yang tua  seringkali tidak dibedakan, sehingga apabila ada pedagang yang menginginkan akan dijual. Penjualan dilakukan langsung pada saat kelapa masih di pohon belum dipetik dan pemetikan tidak memperhatikan umur kelapa. Permasalahan petani on farm yaitu tingkat harga kelapa yang berfluktuasi, produktivitas yang rendah dalam kisaran 1 ton/hektar.

Petani/pekebun ini menjual kelapa butiran langsung kepada petani pengolah kopra ataupun petani pengolah minyak kelapa, pedagang pengumpul desa maupun pedagang perantara yang merupakan pedagang di tingkat kecamatan. Distribusi kelapa butiran ini selnjutnya dilakukan kepada pedagang pengumpul kabupaten  atau wilayah hingga pedagang antar pulau. Distibusi selanjutnya dilakukan kepada konsumen domestik  dan eksportir. 
Gambar 16. Skema Struktur Jaringan  Rantai Pasokan Buah Kelapa Butiran 

Hubungan yang ada antara pembeli dan penjual semata-mata hanya hubungan jual beli komoditas belum ada unsur pembinaan bagi petani, pekebun baik pada budidaya maupun pada pengolahan dan pemasaran atau belum terintegrasi antara kegiatan budi daya dengan kegiatan pengolahan dan pemasaran.

Pedagang pengumpul membayar langsung tunai, kelapa tidak disortasi dan seiring dengan kebutuhan yang mendesak sehingga menginginkan proses sesingkat mungkin. Pedagang perantara yang merupakan pedagang di tingkat wilayah yang melakukan sortasi dengan melihat volume kelapa dan kadar air.  Pedagang juga menginginkan persediaan seminimal mungkin dan seringkali melakukan spekulasi  harga. Unit pengolah melakukan sortasi terkait dengan volume, kadar air kelapa dan menimbun persediaan untuk pasar selanjutnya (forward market). 

Kondisi yang kurang menguntungkan dalam agroindustri yang mempersulit perdagangan untuk pasar ekspor yaitu permasalahan logistik yang terkait dengan jarak. Jarak tempuh sangat menentukan waktu dan volume transaksi. Waktu akan menunjukkan biaya apabila dikaitkan dengan ketidakpastian dan resiko yang harus dipertimbangkan ke dalam harga. Volume transaksi menentukan kelayakan transportasi (feasibility of transport). Demikian pula kualitas dapat menurun apabila tidak adanya sarana pengangkutan dan kurangnya fasilitas pengangkutan. 

Kelembagaan ekonomi belum berperan dengan baik dalam bidang pengolahan dan  pemasaran. Pengembangan unit pengolahan dilakukan untuk agroindustri kelapa terpadu, maka keseluruhan bagian dari kelapa yang selama ini terbuang diolah menjadi produk samping yang mempunyai nilai ekonomi sehingga dapat menimbulkan nilai tambah bagi keseluruhan jaringan rantai pasokan. Hal yang diharapkan adalah adanya suatu unit pengolahan kelapa terpadu yang mampu memberdayakan petani/pekebun dan petani pengolah yang terwadahi dalam kelompok tani dan kelembagaan unit pengolah hasil yang mampu mengoperasikan unit tersebut secara kontinyu dan berkesinambungan. Petani/pekebun maupun petani pengolah tidak harus terlibat dalam manajemen pengelolaan usaha,  namun setidaknya memiliki peran dan arti penting demi peningkatan taraf hidupnya. 



Struktur Jaringan Rantai Pasokan Pengolahan Daging Buah Kelapa

Industri pengolahan daging buah kelapa yang menjadi pilihan yaitu industri minyak kelapa. Perkembangan penawaran dan permintaan minyak kelapa cukup baik.  Pasar yang berkembang untuk produk tersebut telah menciptakan peluang ekspor bagi negara-negara penghasil kelapa. 
Anggota rantai pasokan untuk unit pengolahan daging buah kelapa ini yaitu terdiri dari: petani pemasok kelapa butiran, pedagang pengumpul dan atau pedagang perantara, agroindustri pengolah dan distribusi ke konsumen.  Pemasok bahan baku bukan hanya dari petani pemasok kelapa butiran namun juga dari pedagang pengumpul dan atau pedagang perantara untuk unit pengolah daging buah kelapa.

Petani penghasil kelapa butiran selaku pemasok bahan baku utama berupa kelapa butiran dapat melakukan pemasokan langsung ke unit pengolahan daging buah kelapa berupa unit pengolahan minyak kelapa. Kelapa butiran yang dihasilkan dari petani dapat langsung didistribusikan ke unit pengolahan untuk memenuhi kapasitas unit pengolah. Petani atau kelompok tani berfungsi sebagai pemasok utama, kekurangan bahan untuk kapasitas olah dipenuhi dari pedagang pengumpul dan atau pedagang perantara dari luar wilayah sentra tersebut. 

Agroindustri pengolah merupakan unit yang mentransformasikan bahan baku menjadi produk-produk yang diinginkan. Agroindusri kelapa terpadu yang dikembangkan ini dengan unit pengolah buah kelapa yang menghasilkan minyak kelapa. Buah kelapa butiran yang dipasok dari petani akan langsung diolah ataupun disimpan terlebih dahulu dalam gudang penyimpanan bahan baku sebelum dilakukan proses transformasi.  Produk minyak kelapa yang dihasilkan selanjutnya disimpan terlebih dahulu dalam gudang penyimpanan produk  sebelum didistribusikan ke konsumen.  Hasil samping pemrosesan berupa air kelapa, sabut kelapa dan tempurung kelapa, masing-masing akan ditampung dalam gudang penyimpanan untuk selanjutnya didistribusikan ke unit pengolahan yang lain.  
Agroindustri pengolahan kelapa terpadu ini dengan konsep mendistribusikan langsung produk agroindustrinya. Jalur distribusi minyak kelapa dari sentra produksi kelapa yaitu meliputi minyak kelapa dari unit pengolahan daging buah kelapa/ pengusaha didistribusikan ke pedagang di pasar tradisional dan pedagang eceran dan selanjutnya dijual ke konsumen. Konsumen ini merupakan konsumen pengguna langsung atau konsumen rumah tangga dan konsumen industri. Oleh sebab itu model rantai pasokan untuk agroindustri kelapa terpadu ini diharapkan dapat memberikan gambaran nilai tambah kepada petani selaku pemasok bahan baku dan petani atau kelompok tani yang memungkinkan untuk memiliki keterlibatan langsung dalam usaha ini meskipun bukan dari sisi manajerial pengelolaan unit pengolahan.

Gambar 17 Skema Rantai Pasokan Minyak Kelapa (Hasil Olahan Data Primer)

Jalur distribusi pemasaran minyak kelapa ini ternyata cukup singkat. Jalur pemasaran/distribusi tersebut dapat dijelaskan dengan gambar di atas. Jalur distribusi minyak kelapa dari sentra produksi kelapa yaitu meliputi minyak kelapa dari unit pengolahan daging buah kelapa/ pengusaha didistribusikan ke pedagang di pasar tradisional dan pedagang eceran dan selanjutnya dijual ke konsumen. Minyak kelapa ini juga dapat dijual kepada pedagang pengumpul yang selanjutnya didistribusikan ke konsumen domestik maupun eksportir. Konsumen ini merupakan konsumen pengguna langsung atau konsumen rumah tangga dan konsumen industri.
Jalur pemasaran minyak kelapa dari petani hingga ekportir tidak berbeda dengan komoditi pertanian yang lain. Sarana transportasi yang tidak baik menimbulkan beberapa pelaku pemasaran yang lain seperti pedagang desa, kecamatan dan kabupaten serta pialang/makelar. Hal ini semakin memperpanjang jalur minyak kelapa yang dapat memperkecil keuntungan petani atau produsen menjadi semakin kecil. Keuntungan juga semakin kecil apabila petani kelapa tidak melakukan sendiri kegiatan pengolahan minyak kelapa, hanya menjual hasil panen buah kelapa butir.  Secara umum jalur distribusi pemasaran minyak kelapa dapat terjadi melalui jalur pendek hingga jalur panjang. Jalur terpendek terjadi bila petani langsung mengolah sekaligus memasarkan ke konsumen lokal, domestik atau eksportir. Besarnya penerimaan harga minyak kelapa sangat tergantung pada panjangnya jalur distribusi rantai pasokan. Semakin pendek jalur distribusi maka semakin tinggi penerimaan harga yang diperoleh petani, demikian sebaliknya.


Struktur Jaringan Rantai Pasokan Pengolahan Air Kelapa

Kondisi saat ini menunjukkan bahwa apabila akan diusahakan suatu unit pengolahan sari kelapa atau nata de coco di sentra-sentra penghasil kelapa, justru lebih sulit untuk mendapatkan pasokan air kelapa kecuali dilakukan terintegrasi dengan kegiatan unit pengolahan lain di sentra tersebut. Hal ini juga agar biaya transportasi air kelapa menjadi semakin kecil, karena jarak yang ditempuh relatif pendek.

Kontinyuitas produksi  nata de coco ini sangat tergantung pada kontinyuitas penyediaan bahan baku. Penyediaan bahan baku ini diharapkan akan terjamin apabila agroindustri ini dekat dengan sumber pasokan bahan baku. Namun, sumber pemasok utama bahan baku untuk agroindustri nata de coco ini adalah pasar tradisional yang biasanya berada di wilayah pusat-pusat kecamatan dalam suatu kabupaten. Kedekatan dengan sumber pasokan bahan baku ini diharapkan memberikan implikasi biaya transportasi yang lebih murah. Pasar tradisional yang merupakan pusat pemasok air kelapa dapat digantikan perannya oleh unit pengolahan kelapa yang lain yang memiliki hasil sisa berupa air kelapa. Unit pengolahan  ini sesuai dengan produk prospektif pilihan unit pengolahan minyak kelapa dan dapat diusahakan di lokasi sentra penghasil kelapa. 

Pengusahaan unit pengolahan di sentra penghasil kelapa diharapkan dapat memperkecil biaya transportasi dan memperpendek rantai tata niaga, sehingga diharapkan petani kelapa lebih diuntungkan. Petani kelapa ini juga sekaligus sebagai pelaku agroindustri, sebagai pengolah air kelapa. Kesulitan yang dihadapi berupa  kontinyuitas penyediaan bahan baku dalam jumlah memadai.  Pasokan air kelapa dapat dipenuhi  sebesar 700-800 liter air kelapa per hari dari 2000 butir kelapa.  Pasokan ini dapat dipenuhi dari kebun kelapa seluas 300 ha. Unit pengolahan ini akan menghasilkan 140 – 160 kg sari kelapa per hari atau 4,2 ton sampai dengan 4,8 ton/bulan.

Gambar 18 Skema Rantai Pasokan Nata de Coco (Hasil Olahan Data Primer)

Jalur distribusi pemasaran nata de coco ini ternyata cukup singkat. Jalur pemasaran/distribusi tersebut dapat dijelaskan dengan gambar di atas. Jalur distribusi nata de coco dari sentra produksi kelapa akan didistribusikan ke pedagang di pasar tradisional dan pedagang eceran dan selanjutnya dijual ke konsumen. Nata de coco ini juga dapat dijual kepada pedagang pengumpul yang selanjutnya didistribusikan ke konsumen domestik maupun eksportir. Konsumen ini merupakan konsumen pengguna langsung atau konsumen rumah tangga dan konsumen industri.

Sistem pengangkutan akan berdampak pada  biaya rantai pasokan dalam struktur rantai pasokan air kelapa. Sistem pengangkutan yang tepat dan hemat akan dapat memperkecil biaya dalam rantai pasokan ini. Semakin panjang jalur pemasaran akan semakin memperkecil margin keuntungan di tingkat produsen. Keuntungan yang diperoleh oleh petani juga semakin kecil apabila tidak terlibat langsung dalam kegiatan pemasokan air kelapa. Secara umum jalur distribusi pemasaran nata de coco dapat terjadi melalui jalur pendek hingga jalur panjang. Jalur terpendek terjadi bila petani langsung mengolah sekaligus memasarkan ke konsumen lokal, domestik atau eksportir. Besarnya penerimaan harga nata de coco sangat tergantung pada panjangnya jalur distribusi rantai pasokan. Semakin pendek jalur distribusi maka semakin tinggi penerimaan harga yang diperoleh petani, demikian sebaliknya.


Struktur Jaringan Rantai Pasokan Pengolahan Sabut Kelapa

Serat sabut kelapa, atau dalam perdagangan dunia dikenal sebagai Coco fibre, Coir fibre, coir yarn, coir mats, dan rugs, merupakan produk hasil pengolahan sabut kelapa. Secara tradisional serat sabut kelapa hanya dimanfaatkan untuk bahan pembuat sapu, keset, tali dan alat-alat rumah tangga lain. Perkembangan teknologi, sifat fisika-kimia serat, dan kesadaran konsumen untuk kembali ke bahan alami, membuat serat sabut kelapa dimanfaatkan menjadi bahan baku industri karpet, jok dan dashboard kendaraan, kasur, bantal, dan hardboard. Serat sabut kelapa juga dimanfaatkan untuk pengendalian erosi. Serat sabut kelapa diproses untuk dijadikan Coir fibre sheet yang digunakan untuk lapisan kursi mobil, spring bed dan lain-lain.

Serat sabut kelapa bagi negara-negara tetangga penghasil kelapa sudah merupakan komoditi ekspor yang memasok kebutuhan dunia yang berkisar 75,7 ribu ton per tahun. Indonesia walaupun merupakan negara penghasil kelapa terbesar di dunia, pangsa pasar serat sabut kelapa yang dimiliki masih sangat kecil. Kecenderungan kebutuhan dunia terhadap serat kelapa yang meningkat dan perkembangan jumlah dan keragaman industri di Indonesia yang berpotensi dalam menggunakan serat sabut kelapa sebagai bahan baku / bahan pembantu, merupakan potensi yang besar bagi pengembangan industri pengolahan serat sabut kelapa. Karakteristik produk yang bersifat heat retardant dan biodegradable, serta kecenderungan konsumen produk industri dalam penggunaan bahan alami mendorong peningkatan permintaan terhadap serat sabut kelapa.

Kendala  dan masalah yang dihadapi dalam pengembangan usaha kecil/menengah industri pengolahan serat sabut kelapa adalah keterbatasan modal, akses terhadap informasi pasar dan pasar yang terbatas, serta kualitas serat yang dihasilkan masih belum memenuhi persyaratan. Oleh sebab itu dalam menunjang pengembangan industri serat sabut kelapa yang potensial ini, diperlukan berbagai kemudahan agar dapat diimplementasikan dalam pengembangan usaha serat sabut kelapa. Usaha ini awalnya dapat berkembang sebagai wujud kemitraan. 

Negara tujuan ekspor serat sabut kelapa Indonesia adalah Inggris, Jerman, Belgia, Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Singapura, Malaysia dan Australia. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari responden pengusaha sabut kelapa, setiap bulan diperkirakan China membutuhkan sekitar 50.000 ton serat sabut kelapa per bulan untuk memenuhi kebutuhan industrinya. 

Kapasitas produksi setiap unit usaha dapat bervariasi berkisar antara 55 ton - 300 ton per tahun atau rata-rata sekitar 100 ton per tahun. Harga serat sabut kelapa di tingkat produsen berkisar antara Rp. 500 - Rp.600 per kg sedangkan harga di tingkat pembeli (Jakarta) berkisar antara Rp. 900 - Rp. 1200 per kg yang tergantung kepada kualitas sabut yang dihasilkan. Harga serat sabut kelapa di pasaran ekspor berdasarkan sebesar US $ 210 per ton (FOB), sedangkan harga CIF di negara tujuan (Rotterdam) adalah sebesar US $ 360 per ton. Harga serat sabut kelapa Indonesia di pasaran ekspor relatif lebih rendah dibandingkan dengan serat sabut kelapa dari India, yang bernilai sekitar US $ 290 - 320 per ton (FOB), akan tetapi lebih tinggi dibandingkan dengan produksi Srilanka yaitu sebesar US$ 220 - 270 per ton (FOB). Merujuk kepada perkembangan harga mattress fiber produksi Srilanka, terdapat kecenderungan kenaikan harga yaitu rata-rata sebesar 3 persen per tahun. 

Kecenderungan permintaan dunia terhadap serat sabut kelapa yang meningkat, serta kontribusi Indonesia yang masih sangat kecil dalam perdagangan dunia, serat sabut kelapa Indonesia mempunyai keunggulan komparatif (berdasarkan potensi produksi sabut kelapa) dan mempunyai peluang yang besar. Peluang tersebut dapat diraih dengan syarat adanya perbaikan dan pengembangan teknologi proses sehingga menghasilkan serat yang memenuhi persyaratan kualitas yang diinginkan pasar. 

Serat sabut kelapa Indonesia dihadapkan kepada negara-negara pesaing yang lebih maju dalam hal teknologi produksi serat sabut kelapa dari segi persaingan, sehingga mempunyai kualitas yang lebih unggul. Persaingan tersebut juga dihadapi oleh karena perkembangan aplikasi teknologi yang lebih maju dalam membuat produk industri dengan bahan baku serat sabut kelapa. Negara-negara pesaing Indonesia tersebut antara lain adalah Srilanka, India, Thailand dan Philipina. 
Jalur distribusi pemasaran serat sabut kelapa dengan melihat uraian di atas dapat digambarkan seperti pada skema rantai pasokandi bawah ini. Jalur distribusi ini juga cukup singkat. Jalur distribusi serat sabut kelapa dari unit pengolahan serat sabut di sentra produksi kelapa hampir lebih dari 95% didistribusikan ke pedagang pengumpul dan selanjutnya ke eksportir. Serat sabut kelapa yang didistribusikan untuk pasaran domestik hanya sedikit sekali. Konsumen untuk pasar domestik ini merupakan konsumen perusahaan besar.  

Biaya pada struktur rantai pasokan ini dipengaruhi oleh biaya transportasi dan sistem pengangkutan. Sistem pengangkutan yang tepat dan hemat akan dapat memperkecil biaya dalam rantai pasokan ini. Semakin panjang jalur pemasaran akan semakin memperkecil margin keuntungan di tingkat produsen. Keuntungan yang diperoleh oleh petani juga semakin kecil apabila tidak terlibat langsung dalam kegiatan pemasokan sabut kelapa. Namun, sabut kelapa ini jelas tidak dapat dipasok hanya dari petani saja namun juga dari pengumpul. Secara umum jalur distribusi pemasaran serat sabut merupakan jalur yang cukup singkat. Jalur ini terjadi karena petani dapat langsung turut andil dalam kegiatan pengolahan dan sekaligus memasarkan ke konsumen lokal, domestik atau eksportir. Besarnya penerimaan harga serat sabut sangat tergantung pada panjangnya jalur distribusi rantai pasokan. Semakin pendek jalur distribusi maka semakin tinggi penerimaan harga yang diperoleh petani, demikian sebaliknya.



Gambar 19  Skema Rantai Pasokan Sabut Kelapa (Hasil Olahan Data Primer)



Struktur Jaringan Rantai Pasokan Pengolahan Tempurung Kelapa

Struktur jaringan rantai pasokan tempurung kelapa menunjukkan bahwa bahan baku tempurung kelapa dapat diperoleh dari berbagai wilayah. Pedagang pengumpul dapat ditemui dari pelosok Banyuwangi sampai ke ujung selatan Pandeglang. Hal ini disebabkan terdapat limbah tempurung yang siap untuk diolah langsung menjadi bahan baku arang tempurung. Petani kelapa menjual kelapa dalam bentuk butiran dengan atau tanpa sabut kelapa. Limbah tempurung akan terbawa di pasar-pasar kota dan ada yang menampung limbah tempurung di lokasi-lokasi tersebut.

Struktur jaringan rantai pasokan menunjukkan bahwa bahan baku tempurung diperoleh dari berbagai wilayah terutama dari pengumpul tempurung di pasar-pasar tradisional dan juga dari petani pengolah minyak kelapa ataupun petani pengolah kopra.  Bahan baku tempurung ini juga diperoleh dari pedagang antar pulau yang melakukan distribusi pasokan bahan baku tempurung.  Kontribusi harga tempurung semakin meningkat karena transportasi tempurung ke lokasi tanur pengarangan yang semakin jauh. 


Gambar 20 Skema Rantai Pasokan Tempurung Kelapa (Hasil Olahan Data 
                   Primer)

Jalur distribusi pemasaran arang tempurung kelapa dengan melihat uraian di atas dapat digambarkan seperti pada skema rantai pasokan di atas. Jalur distribusi ini juga cukup singkat. Jalur distribusi arang tempurung dari unit pengolahan arang tempurung di sentra produksi kelapa hampir lebih dari 85% didistribusikan ke pedagang pengumpul dan selanjutnya ke eksportir. Arang tempurung kelapa yang didistribusikan untuk pasaran domestik hanya sedikit sekali. Konsumen untuk pasar domestik ini merupakan konsumen di pasar-pasar tradisional.  Arang tempurung yang dipasarkan di pasar tradisional ini juga merupakan arang tempurung dengan kualitas yang kurang bagus dibandingkan dengan arang tempurung yang dipasarkan ke pedagang pengumpul dan selanjutnya ke perusahaan-perusahaan kosmetika, farmasi maupun eksportir luar negeri. 

Biaya pada struktur rantai pasokan ini dipengaruhi oleh biaya transportasi dan sistem pengangkutan. Sistem pengangkutan yang tepat dan hemat akan dapat memperkecil biaya dalam rantai pasokan ini. Semakin panjang jalur pemasaran akan semakin memperkecil margin keuntungan di tingkat produsen. Keuntungan yang diperoleh oleh petani juga semakin kecil apabila tidak terlibat langsung dalam kegiatan pemasokan arang tempurung. Namun, arang tempurung kelapa ini jelas tidak dapat dipasok hanya dari petani saja mengingat jumlah yang diperlukan cukup banyak, namun juga dari pengumpul. Secara umum jalur distribusi pemasaran arang tempurung merupakan jalur yang cukup singkat. Jalur ini terjadi karena petani dapat ikut serta dalam kegiatan pengolahan dan sekaligus memasarkan ke konsumen lokal, domestik atau eksportir. Besarnya penerimaan harga arang tempurung juga sangat tergantung pada panjangnya jalur distribusi rantai pasokan. Semakin pendek jalur distribusi maka semakin tinggi penerimaan harga yang diperoleh petani, demikian sebaliknya.

Admin
Admin Tingkat pendidikan kita terus berkembang, tapi literasi kian anjlok, sajian informasi dipenuhi Sampah. Itu Meta Motivasi Kita Bergerak.

Post a Comment for "Analisis Rantai Pasokan Agroindutri Kelapa Terpadu"