Ø Tanaman Binahong | Terapi Herbal
Tanaman binahong sudah lama terdapat di
Indonesia dan biasa disebut dengan Gendola
(Basella Rubra Linn).
Hampir semua bagiantanaman binahong ini memiliki manfaat yang dapat digunakan sebagai obat herbal.
Hampir semua bagiantanaman binahong ini memiliki manfaat yang dapat digunakan sebagai obat herbal.
Konon, ada cerita
menarik tentang tanaman binahong ini di daerah Vietnam.
Pada waktu itu, tentara Amerika merasa sangat heran.
Setelah banyak yang terluka pada pertempuran, namun keesokan harinya pasukan Vietnam ini banyak yang segar bugar padahal sehari sebelumnya luka gores dan tembak telah mengenai mereka.
Pada waktu itu, tentara Amerika merasa sangat heran.
Setelah banyak yang terluka pada pertempuran, namun keesokan harinya pasukan Vietnam ini banyak yang segar bugar padahal sehari sebelumnya luka gores dan tembak telah mengenai mereka.
Setelah ditelusuri lebih jauh, ternyata
pasukan Vietnam menyembuhkan dirinya dengan tanaman binahong sebagai obat luka.Luka luar dan dalam bisa
diobati dengan binahong ini.
Hingga saat ini, binahong sudah banyak yang
tersedia dalam bentuk kapsul.Permintaan makin tinggi seiring berjalannya zaman.
Obat herbal yang satu ini ternyata banyak peminatnya.
Obat herbal yang satu ini ternyata banyak peminatnya.
Khasiat Tanaman Binahong:
- Khasiat Daun Binahong antara lain untuk menyembuhkan Batuk,
Bisul, Susah berak.
- Khasiat Getah Daun binahong bisa untuk obat sakit Selesma.
- Khasiat Getah Buah Binahong bisa untuk menyembuhkan sakit Radang Selaput
Mata.
- Khasiat Akar Binahong untuk obat sakit Mencret.
Tanaman
Binahong ini memiliki banyak getah yang bermanfaat untuk kesehatan.Memiliki
khasiat yang luar biasa dan telah ribuan tahun dikonsumsi oleh Bangsa Cina,
Korea dan Taiwan.
TEKNOLOGI PENYIAPAN SIMPLISIA TERSTANDAR TANAMAN OBAT
Panen merupakan salah satu
rangkaian tahapan dalam proses budidaya tanaman obat. Waktu, cara pemanenan dan
penanganan bahan setelah panen merupakan periode kritis yang sangat menen-tukan
kualitas dan kuantitas hasil tanaman. Oleh karena itu waktu, cara panen dan
penanganan tanaman yang tepat dan benar merupakan faktor penentu
kua-litas dan kuantitas. Setiap jenis tanaman memiliki waktu dan
cara panen yang berbeda. Tanaman yang dipanen buahnya memiliki waktu dan
cara panen yang berbeda dengan tanaman yang dipanen berupa biji, rimpang, daun,
kulit dan batang. Begitu juga tanaman yang mengalami stres lingkungan akan
memiliki waktu panen yang ber-beda meskipun jenis tanamannya sama.
Berikut ini diuraikan saat panen yang tepat untuk beberapa jenis tanaman obat.Biji.Panen tidak bisa dilakukan secara
serentak karena perbedaan waktu pematangan dari buah atau polong yang
berbeda.Pemanenan biji di-lakukan pada saat biji telah masak fisiologis.Fase
ini ditandai dengan sudah maksimalnya pertumbuhan buah atau polong dan biji
yang di dalamnya telah terbentuk dengan sempurna.Kulit buah atau polong
mengalami perubahan warna misalnya kulit polong yang semula warna hijau kini
berubah menjadi agak kekuningan dan mulai mengering.Pemanenan biji pada tanaman
se-musim yang sifatnya determinate dilakukan secara serentak pada suatu luasan
tertentu.Pemanenan dilaku-kan setelah 60% kulit polong atau kulit biji sudah
mulai mongering.Hal ini berbeda dengan tanaman se-musim indeterminate dan
tahunan, yang umumnya dipanen secara ber-kala berdasarkan pemasakan dari
biji/polong.
Ø Buah;
Buah
harus dipanen setelah masak fisiologis dengan cara me-metik. Pemanenan
sebelum masak fisiologis akan menghasilkan buah dengan kualitas yang rendah dan
kuantitasnya berkurang. Buah yang dipanen pada saat masih muda, seperti
buah mengkudu, jeruk nipis, jambu biji dan buah ceplukan akan memiliki
rasa yang tidak enak dan aromanya kurang sedap. Begitu pula halnya dengan
pemanenan yang terlambat akan menyebabkan pe-nurunan kualitas karena akan
terjadi perombakan bahan aktif yang ter-dapat di dalamnya menjadi zat
lain. Selain itu tekstur buah menjadi lembek dan buah menjadi lebih cepat
busuk.
Ø Daun;
Pemanenan
daun dilakukan pada saat tanaman telah tumbuh maksimal dan sudah memasuki
periode matang fisiologis dan dilakukan dengan memangkas tanaman.
Pemangkasan dilakukan dengan menggunakan pisau yang bersih atau gunting stek.
Pemanenan yang terlalu cepat menyebabkan hasil produksi yang diperoleh
rendah dan kandungan bahan bahan aktifnya juga rendah, seperti tanaman jati belanda
dapat dipanen pada umur 1 - 1,5 tahun, jambu biji pada umur 6 - 7 bulan, cincau
3 - 4 bulan dan lidah buaya pada umur 12 - 18 bulan setelah tanam. Demikian
juga dengan pe-manenan yang terlambat menyebab-kan daun mengalami penuaan
(se-nescence) sehingga mutunya rendah karena bahan aktifnya sudah
ter-degradasi. Pada beberapa tanaman pemanenan yang terlambat akan mempersulit
proses panen.
Ø Rimpang;
Untuk
jenis rimpang waktu pe-manenan bervariasi tergantung peng-gunaan.
Tetapi pada umumnya pe-manenan dilakukan pada saat tanam-an berumur 8 -
10 bulan. Seperti rimpang jahe, untuk kebutuhan eks-por dalam
bentuk segar jahe dipanen pada umur 8 - 9 bulan setelah tanam, sedangkan untuk
bibit 10 - 12 bulan. Selanjutnya untuk keperluan pem-buatan jahe asinan, jahe
awetan dan permen dipanen pada umur 4 - 6 bulan karena pada umur tersebut serat
dan pati belum terlalu tinggi.Sebagai bahan obat, rimpang di-panen setelah tua
yaitu umur 9 - 12 bulan setelah tanam.Untuk temu-lawak pemanenan rimpang
dilaku-kan setelah tanaman berumur 10 - 12 bulan. Temulawak yang dipanen pada
umur tersebut menghasilkan kadar minyak atsiri dan kurkumin yang tinggi.
Penanaman rimpang dilakukan pada saat awal musim hujan dan dipanen pada
pertengahan musim kemarau. Saat panen yang tepat ditandai dengan mulai
menge-ringnya bagian tanaman yang berada di atas permukaan tanah (daun dan
batang semu), misalnya kunyit, temulawak, jahe, dan kencur.
Ø Bunga;
Bunga
digunakan dalam industri farmasi dan kosmetik dalam bentuk segar maupun
kering. Bunga yang digunakan dalam bentuk segar, pemanenan dilakukan pada
saat bunga kuncup atau setelah per-tumbuhannya maksimal. Berbeda dengan
bunga yang digunakan dalam bentuk kering, pemanenan dilakukan pada saat bunga
sedang mekar. Seperti bunga piretrum, bunga yang dipanen dalam keadaan
masih kuncup menghasilkan kadar piretrin yang lebih tinggi dibandingkan
dengan bunga yang sudah mekar.
Ø Kayu;
Pemanenan
kayu dilakukan setelah pada kayu terbentuk senyawa metabolit sekunder secara
maksimal. Umur panen tanaman berbeda-bedatergantung jenis tanaman dan
ke-cepatan pembentukan metabolit sekundernya.Tanaman secang baru dapat dipanen
setelah berumur 4 sampai 5 tahun, karena apabila dipanen terlalu muda kandungan
zat aktifnya seperti tanin dan sappan masih relatif sedikit.
Ø Herba;
Pada
beberapa tanaman semusim, waktu panen yang tepat adalah pada saat pertumbuhan
vegetatif tanaman sudah maksimal dan akan memasuki fase generatif atau dengan
kata lain pemanenan dilakukan sebelum ta-naman berbunga. Pemanenan yang
dilakukan terlalu awal mengakibat-kan produksi tanaman yang kita dapatkan
rendah dan kandungan bahan aktifnya juga rendah. Sedang-kan jika
pemanenan terlambat akan menghasilkan mutu rendah karena jumlah daun berkurang,
dan batang tanaman sudah berkayu. Contohnya tanaman sambiloto sebaiknya
di-panen pada umur 3 - 4 bulan, pegagan pada umur 2 - 3 bulan setelah
tanam, meniran pada umur kurang lebih 3,5 bulan atau sebelum berbunga dan
tanaman ceplukan dipanen setelah umur 1 - 1,5 bulan atau segera setelah timbul kuncup
bunga, terbentuk.
·
Cara
Panen
Pada
waktu panen peralatan dan tempat yang digunakan harus bersih dan bebas dari
cemaran dan dalam keadaan kering.Alat yang diguna-kan dipilih dengan tepat
untuk mengurangi terbawanya bahan atau tanah yang tidak diperlukan.
Seperti rimpang, alat untuk panen dapat menggunakan garpu atau cangkul.
Bahan yang rusak atau busuk harus segera dibuang atau dipisahkan.
Penempatan dalam wadah (keran-jang, kantong, karung dan lain-lain) tidak boleh
terlalu penuh sehingga bahan tidak menumpuk dan tidak rusak. Selanjutnya dalam
waktu pengangkutan diusahakan supaya bahan tidak terkena panas yang berlebihan,
karena dapat menyebab-kan terjadinya proses fermentasi/ busuk. Bahan juga
harus dijaga dari gang-guan hama (hama gudang, tikus dan binatang peliharaan).
·
Penanganan
Pasca Panen
Pasca
panen merupakan kelanjut-an dari proses panen terhadap tanaman budidaya atau
hasil dari penambangan alam yang fungsinya antara lain untuk membuat bahan
hasil panen tidak mudah rusak dan memiliki kualitas yang baik serta mudah
disimpan untuk diproses selanjutnya. Untuk memulai proses pasca panen
perlu diperhatikan cara dan tenggang waktu pengumpulan bahan tanaman yang ideal
setelah dilakukan proses panen tanaman tersebut. Selama proses pasca panen
sangat penting diperhatikan keber-sihan dari alat-alat dan bahan yang
digunakan, juga bagi pelaksananya perlu memperhatikan perlengkapan seperti
masker dan sarung tangan. Tujuan dari pasca panen ini untuk menghasilkan
simplisia tanaman obat yang bermutu, efek terapinya tinggi sehingga
memiliki nilai jual yang tinggi. Secara umum faktor-faktor dalam penanganan
pasca panen yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
a)
Penyortiran (segar);Penyortiran segar dilakukan setelah selesai
panen dengan tujuan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan asing,
bahan yang tua dengan yang muda atau bahan yang ukurannya lebih besar atau
lebih kecil. Bahan nabati yang baik memiliki kandungan campuran bahan
organik asing tidak lebih dari 2%. Proses penyortiran pertama bertujuan untuk
memisahkan bahan yang busuk atau bahan yang muda dan yang tua serta untuk
mengurangi jumlah pengotor yang ikut terbawa dalam bahan.
b)
Pencucian;Pencucian bertujuan menghilang-kan
kotoran-kotoran dan mengurangi mikroba-mikroba yang melekat pada
bahan.Pencucian harus segera di-lakukan setelah panen karena dapat mempengaruhi
mutu bahan. Pen-cucian menggunakan air bersih seperti air dari mata air, sumur
atau PAM. Penggunaan air kotor menye-babkan jumlah mikroba pada bahan
tidak akan berkurang bahkan akan bertambah. Pada saat pencucian
per-hatikan air cucian dan air bilasan-nya, jika masih terlihat kotor ulangi
pencucian/pembilasan sekali atau dua kali lagi.Perlu diperhatikan bahwa
pencucian harus dilakukan dalam waktu yang sesingkat mung-kin untuk menghindari
larut dan terbuangnya zat yang terkandung dalam bahan. Pencucian bahan dapat
dilakukan dengan beberapa cara antara lain :
a. Perendaman bertingkat
Perendamana biasanya dilakukan pada
bahan yang tidak banyak mengandung kotoran seperti daun, bunga, buah dll.
Proses perendaman dilakukan beberapa kali pada wadah dan air yang
berbeda, pada rendaman pertama air cuciannya mengandung kotoran paling
banyak. Saat perendaman kotoran-kotoran yang melekat kuat pada bahan
dapat dihilangkan langsung dengan tangan. Metoda ini akan menghemat
peng-gunaan air, namun sangat mudah melarutkan zat-zat yang terkandung dalam
bahan.
b. Penyemprotan
Penyemprotan biasanya dilakukan pada
bahan yang kotorannya banyak melekat pada bahan seperti rimpang, akar, umbi dan
lain-lain. Proses penyemprotan dilakukan de-ngan menggunakan air yang
ber-tekanan tinggi. Untuk lebih me-nyakinkan kebersihan bahan, ko-toran yang
melekat kuat pada bahan dapat dihilangkan langsung dengan tangan. Proses ini
biasanya meng-gunakan air yang cukup banyak, namun dapat mengurangi resiko
hilang/larutnya kandungan dalam bahan.
c.
Penyikatan
(manual maupun oto-matis)
Pencucian dengan menyikat dapat
dilakukan terhadap jenis bahan yang keras/tidak lunak dan kotoran-nya melekat
sangat kuat. Pencucian ini memakai alat bantu sikat yang di- gunakan
bentuknya bisa bermacam-macam, dalam hal ini perlu diper-hatikan kebersihan
dari sikat yang digunakan. Penyikatan dilakukan terhadap bahan secara perlahan
dan teratur agar tidak merusak bahannya. Pem-bilasan dilakukan pada bahan
yang sudah disikat.Metode pencuci-an ini dapat menghasilkan bahan yang lebih
bersih dibandingkan de-ngan metode pencucian lainnya, namun meningkatkan resiko
kerusa-kan bahan, sehingga merangsang tumbuhnya bakteri atau mikro-organisme.
d. Penirisan/pengeringan
Setelah pencucian, bahan lang-sung
ditiriskan di rak-rak pengering. Khusus untuk bahan rimpang pen-jemuran
dilakukan selama 4 - 6 hari. Selesai pengeringan dilakukan kem-bali
penyortiran apabila bahan lang-sung digunakan dalam bentuk segar sesuai dengan
permintaan. Contoh-nya untuk rimpang jahe, perlu dilakukan penyortiran sesuai
standar perdagangan, karena mutu bahan menentukan harga jual. Berdasarkan
standar perdagangan, mutu rimpang jahe segar dikategorikan sebagai berikut :
- Mutu I : bobot 250 g/rimpang, kulit tidak terkelupas, tidak
me-ngandung benda asing dan tidak berjamur.
- Mutu II : bobot 150 - 249 g/rim-pang, kulit tidak terkelupas,
tidak mengandung benda asing dan tidak berjamur.
- Mutu III : bobot sesuai hasil analisis, kulit yang terkelupas
maksimum 10%, benda asing maksimum 3%, kapang mak-simum 10%.
Untuk ekspor jahe dalam bentuk asinan
jahe, dipanen pada umur 3 - 4 bulan, karena pada umur tersebut serat dan
pati jahe masih sedikit. Mutu jahe yang diinginkan adalah bobot 60 - 80
g/rimpang.Selesai penyortiran bahan langsung dikemas dengan menggunakan jala
plastik atau sesuai dengan permintaan. Di samping dijual dalam bentuk
segar, rimpang juga dapat dijual dalam bentuk kering yaitu simplisia yang
dikeringkan.
e. Perajangan
Perajangan pada bahan dilakukan untuk
mempermudah proses selanjutnya seperti pengeringan, pengemasan, penyulingan
minyak atsiri dan penyimpanan. Perajangan biasanya hanya dilakukan pada
bahan yang ukurannya agak besar dan tidak lunak seperti akar, rim-pang, batang,
buah dan lain-lain. Ukuran perajangan tergantung dari bahan yang
digunakan dan ber-pengaruh terhadap kualitas simplisia yang dihasilkan.
Perajangan terlalu tipis dapat mengurangi zat aktif yang terkandung dalam
bahan. Sedangkan jika terlalu tebal, maka pengurangan kadar air dalam
bahan agak sulit dan memerlukan waktu yang lama dalam penjemuran dan
kemungkinan besar bahan mudah ditumbuhi oleh jamur.
Ketebalan
perajangan untuk rimpang temulawak adalah sebesar 7 - 8 mm, jahe, kunyit dan
kencur 3 - 5 mm. Perajangan bahan dapat dilakukan secara manual dengan
pisau yang tajam dan terbuat dari steinlees ataupun dengan mesin pemotong/
perajang. Bentuk irisan split atau slice tergantung tujuan
pemakaian. Untuk tujuan mendapatkan minyak atsiri yang tinggi bentuk
irisan sebaiknya adalah membujur (split) dan jika ingin bahan lebih
cepat kering bentuk irisan sebaiknya me-lintang (slice).
f. Pengeringan
Pengeringan adalah suatu cara
pengawetan atau pengolahan pada bahan dengan cara mengurangi kadar air,
sehingga proses pem-busukan dapat terhambat. Dengan demikian dapat
dihasilkan simplisia terstandar, tidak mudah rusak dan tahan disimpan dalam
waktu yang lama Dalam proses ini, kadar air dan reaksi-reaksi zat aktif dalam
bahan akan berkurang, sehingga suhu dan waktu pengeringan perlu
diperhati-kan. Suhu pengeringan tergantung pada jenis bahan yang
dikeringkan. Pada umumnya suhu pengeringan adalah antara 40 - 600C
dan hasil yang baik dari proses pengeringan adalah simplisia yang mengandung
kadar air 10%. Demikian pula de-ngan waktu pengeringan juga ber-variasi,
tergantung pada jenis bahan yang dikeringkan seperti rimpang, daun, kayu
ataupun bunga. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pro-ses pengeringan
adalah kebersihan (khususnya pengeringan mengguna-kan sinar matahari),
kelembaban udara, aliran udara dan tebal bahan (tidak saling menumpuk).
Penge-ringan bahan dapat dilakukan secara tradisional dengan menggunakan sinar
matahari ataupun secara mo-dern dengan menggunakan alat pe-ngering seperti
oven, rak pengering, blower ataupun dengan fresh dryer.
Pengeringan hasil rajangan dari
temu-temuan dapat dilakukan de-ngan menggunakan sinar matahari, oven, blower
dan fresh dryer pada suhu 30 - 500C. Pengeringan pada
suhu terlalu tinggi dapat merusak komponen aktif, sehingga mutunya dapat
menurun. Untuk irisan rim-pang jahe dapat dikeringkan meng-gunakan alat
pengering energi surya, dimana suhu pengering dalam ruang pengering
berkisar antara 36 - 450C dengan tingkat kelembaban 32,8 - 53,3%
menghasilkan kadar minyak atsiri lebih tinggi dibandingkan dengan pengeringan
matahari lang-sung maupun oven. Untuk irisan temulawak yang dikeringkan
dengan sinar matahari langsung, sebelum dikeringkan terlebih dulu irisan
rimpang direndam dalam larutan asam sitrat 3% selama 3 jam. Selesai peren-aman
irisan dicuci kembali sampai bersih, ditiriskan kemudian dijemur dipanas
matahari. Tujuan dari perendaman adalah untuk mencegah terjadinya degradasi
kur-kuminoid pada simplisia pada saat penjemuran juga mencegah peng-uapan
minyak atsiri yang berlebihan. Dari hasil analisis diperoleh kadar minyak
atsirinya 13,18% dan kur-kumin 1,89%. Di samping meng-gunakan sinar matahari
langsung, penjemuran juga dapat dilakukan dengan menggunakan blower pada
suhu 40 - 500C. Kelebihan dari alat ini adalah waktu
penjemuran lebih singkat yaitu sekitar 8 jam, di-bandingkan dengan sinar
matahari membutuhkan waktu lebih dari 1 minggu. Pelain kedua jenis pengeri-ng
tersebut juga terdapat alat pengering fresh dryer, dimana suhunya hampir
sama dengan suhu ruang, tempat tertutup dan lebih higienis. Kelemahan dari alat
ter-sebut waktu pengeringan selama 3 hari. Untuk daun atau herba,
penge-ringan dapat dilakukan dengan me-nggunakan sinar matahari di dalam tampah
yang ditutup dengan kain hitam, menggunakan alat pengering fresh dryer
atau cukup dikering-anginkan saja.
Pengeringan dapat menyebabkan
perubahan-perubahan hidrolisa enzi-matis, pencokelatan, fermentasi dan
oksidasi. Ciri-ciri waktu pengering-an sudah berakhir apabila daun
atau-pun temu-temuan sudah dapat di-patahkan dengan mudah. Pada umumnya bahan
(simplisia) yang sudah kering memiliki kadar air ± 8 - 10%. Dengan jumlah
kadar air tersebut kerusakan bahan dapat ditekan baik dalam pengolahan mau-pun
waktu penyimpanan.
g. Penyortiran (kering)
Penyortiran
dilakukan bertujuan untuk memisahkan benda-benda asing yang terdapat pada
simplisia, misalnya akar-akar, pasir, kotoran unggas atau benda asing
lainnya. Proses penyortiran merupakan tahap akhir dari pembuatan
simplisia kering sebelum dilakukan pengemasan, penyimpanan atau pengolahan
lebih lanjut. Setelah penyortiran simplisia ditimbang untuk mengetahui rendemen
hasil dari proses pasca panen yang dilakukan.
h. Pengemasan
Pengemasan dapat dilakukan terhadap
simplisia yang sudah di-keringkan. Jenis kemasan yang di-gunakan dapat
berupa plastik, kertas maupun karung goni.Persyaratan jenis kemasan yaitu dapat
menjamin mutu produk yang dikemas, mudah dipakai, tidak mempersulit
pena-nganan, dapat melindungi isi pada waktu pengangkutan, tidak beracun dan
tidak bereaksi dengan isi dan kalau boleh mempunyai bentuk dan rupa yang
menarik.
Berikan label yang jelas pada tiap
kemasan tersebut yang isinya menuliskan ; nama bahan, bagian dari tanaman bahan
yang digunakan, tanggal pengemasan, nomor/kode produksi, nama/alamat penghasil,
berat bersih, metode pe-nyimpanan.
i. Penyimpanan
Penyimpanan simplisia dapat
di-lakukan di ruang biasa (suhu kamar) ataupun di ruang ber AC. Ruang
tempat penyimpanan harus bersih, udaranya cukup kering dan ber-ventilasi.
Ventilasi harus cukup baik karena hama menyukai udara yang lembab dan panas.
Perlakuan sim-plisia dengan iradiasi sinar gamma dosis 10 kGy dapat menurunkan
jumlah patogen yang dapat meng-kontaminasi simplisia tanaman obat (Berlinda
dkk, 1998). Dosis ini tidak merubah kadar air dan kadar minyak atsiri simplisia
selama penyimpanan 3 - 6 bulan. Jadi sebelum disimpan pokok utama yang
harus diperhati-kan adalah cara penanganan yang tepat dan higienes. Hal-hal
yang perlu diperhatikan mengenai tempat penyimpanan simplisia adalah :
- Gudang
harus terpisah dari tem-pat penyimpanan bahan lainnya ataupun penyimpanan
alat dan dipelihara dengan baik.
- Ventilasi
udara cukup baik dan bebas dari kebocoran atau ke-mungkinan masuk air
hujan.
- Suhu gudang
tidak melebihi 300C.
- Kelembabab
udara sebaiknya di-usahakan serendah mungkin (650 C) untuk
mencegah terjadinya penyerapan air. Kelembaban udara yang tinggi dapat
memacu pertumbuhan mikroorganisme se-hingga menurunkan mutu bahan baik
dalam bentuk segar maupun kering.
- Masuknya
sinar matahari lang-sung menyinari simplisia harus dicegah.
- Masuknya
hewan, baik serangga maupun tikus yang sering me-makan simplisia yang
disimpan harus dicegah.

Post a Comment for "Tanaman Herbal"