Penulis: Adi Ismail
Sekiranya kucing-kucing ini kita beri sayap agar mereka dapat terbang dan mencicipi semua telur burung pipit. disimpulkan dari ungkapan di atas bahwa perubahan perilaku pada tingkat individual dapat berpengaruh pada perubahan perilaku orang lain.
Saya pikir kita tak perlu membanggakan diri bahwa kita pernah mendengarkan kata filsafat yang sering di ucap oleh buah bibir manis seseorang yg berasal dari keturunan Adam dan Siti Hawa pada masa kekinian. Terlalu naif jika kita mengpostulat sesuatu tanpa argumen yang logis, anehnya konstelasi dari beberapa pemikiran ini yang kemudian mencoba mengkonstatir filsafat ini sebagai sesuatu yang akan menghantarkan kita pada ladang sakaratul maut, alias menjadi seorang yang ateis karena doktrinasi sesat dari filsafat yang menjauhkan seseorang dari agama.
Dan hal itu terjadi pada saat ini dimana ketika ada segelintir anti bid'ah yang mulai menghadapi para akademik muda yang sedikit berpemikiran ala materialis, dan ini yang akan menjadi tantangan yang amat krusial karena mengubah pola atau gaya berfikir sesorang mempunyai dimensi waktu yang cukup. Bukan pada hari ini filafat hadir di tengah-tengah opini publik tetapi pada abad-abad sebelumnya bahkan ratusan tahun lamanya filsafat sudah hadir dengan beberapa tokoh yang sekarang sangat terkenal ala pemikirannya semisalnya Socrates, plato dan Aristoteles dan hari ini tidak bisa di pungkiri idealismenya mereka dipakai hingga saat ini.
Filsafat yang di manifestasikan sebagai "CINTA KEBIJAKSANAAN" oleh seorang kakek tua yang berasal dari athena (Yunani kuno) dan mencoba membuat pergulatan pemikiran, sehingga akan melahirkan bayi-bayi yang khasatria. Dari kata yang di lontarkan di atas, filsafat sebagai cinta kebijaksanaan ini merupakan sebuah fraksi instrumen pendamping akal di pelaminan yang akan membawa dan membentuk kehidupan dan gaya berfikir manausia yang benar dan tidak hanya menilik sebuah kebenaran hanya secara sudut pandang tekstual, yang sekiranya tidak akan membawa tafsiran-tafsiran yang konotasinya negativ keliru.
Inilah indikator pemikiran berfilsafat tidak hanya menerima sebuah kebenaran secara pasif frontal.
Perjalanan pemikiran filsafat tak ada lebihnya pada dasarnya hanya meluruskan kebenaran, sebuah usaha yang selalu membawa klaim-klaim dari para pembawanya untuk menjadi valid dan dipakai setiap zaman. Bagaimana jika jari-jari kebenaran sudah lemah untuk mencengkram suatu zaman, melihat kerangka dasar yang di gunakan oleh beberapa konstelasi pemikiran tampak jelas akan memperoleh inspirasi dari beberapa filsuf kontemporer, semisalnya karl marx, Derrida dan Foucault .
Berfilsafat itu berarti berpikir, tapi berpikir itu tidak semuanya berarti berfilsafat. Hal ini disebabkan oleh berfilsafat berarti berpikir artinya dengan bermakna dalam arti berpikir itu ada manfaat, makna, dan tujuannya, sehingga mudah untuk direalisasikan dari berpikir itu karena sudah ada acuan dan tujuan yang pasti/sudah ada planning dan contohnya, dan yang paling utama hasil dari berpikir itu bermanfaat bagi orang banyak, tapi sekali lagi berpikir tidak berarti berfilsafat, karena isi dari berpikir itu belum tentu bermakna atau mempunyai tujuan yang jelas atau mungkin hanya khayalan saja.
Karena hakikatnya filsafat itu demikan membawa kita berpikir secara mendalam, maksudnya untuk mencari kebenaran substansial atau kebenaran yang sebenarnya dan mempertimbangkan semua aspek, serta menuntun kita untuk mendapatkan pemahaman yang lengkap.
Dalam konteks ini tanpa kesadaran kita para filsuf sudah mengajak kita bagaimana berpikir kritis atau yang lebih seksi lagi di kenal dengan istilah(Radikal) untuk merelatifkan kemapanan-kemapanan formal struktural, terutama struktur kesadaran berpikir kita yang bisa mudah beku yang sering mengklaim dan memonopoli kebenarannya sendiri sebagai satu-satunya yang benar.
Monopoli kebenaran (pengetahuan) tampaknya bersumber dari suatu ikhtiar untuk memperoleh pengetahuan, dengan di tumpasnya pikiran-pikiran kritis dari filsafat maka tidak ada lagi kontrol atas penyalagunaan model kebenaran ilmiah. Inilah indikator, filsafat yang sering disebut sebagai induk semang dari ilmu-ilmu .
Filsafat juga merupakan disiplin ilmu yang berusaha untuk menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat dan lebih memadai. Filsafat telah mengantarkan pada sebuah fenomena adanya siklus pengetahuan sehingga membentuk sebuah konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana “pohon ilmu pengetahuan” telah tumbuh mekar-bercabang secara subur sebagai sebuah fenomena kemanusiaan. Masing-masing cabang pada tahap selanjutnya melepaskan diri dari batang filsafatnya, berkembang mandiri dan masing-masing mengikuti metodologinya sendiri-sendiri.
Perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya ilmu-ilmu baru dengan berbagai disiplin yang akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu pengetahuan baru kearah ilmu pengetahuan yang kita geluti sekarang.
Manado 25 April 2018

Post a Comment for "Stigmatisasi Filsafat"