![]() |
| Niccolò Machiavelli |
Penulis : Fidia Yahya Fataruba
Machiaveli orang yang pertama kali mendiskusikan fenomena sosial politik. Bagi Machiavelli, politik hanya berkaitan dengan satu hal semata, yaitu memperoleh dan mempertahankan kekuasaan. Hal lainnya, seperti agama dan moralitas, yang selama ini dikaitkan dengan politik sesungguhnya tidak memiliki hubungan mendasar dengan politik, kecuali bahwa agama dan moral tersebut membantu untuk mendapat dan mempertahankan politik.
Tidak bisa di kaitkan dengan agama dijelaskan karena politik sesuatu yang salah makan harus di benarkan sesuatu yang benar harus di pertahankan jika dalam agama hanya merujuk pada moral seorang penguasah politik karena seorang penguasah harus menerapkan sesuatu harus adil dalam mengambil tindakan misalnya ia harus menerapkan sesuatu dengan moral kepada masyarakat agar masyarakat pun akan menghargai seorang penguasah tersebut bukan memintingan dirinya sendiri ia harus menjaga kata-kata yang harus di keluarkan di depan umum ke masyarakat itu sendiri tidak boleh semenah- menah berbicara karena ia pikir bahwa ia adalah penguasah maka semau- maunya ia berkata, jika seorang penguasah politik mengetahui hukum maka ia tidak akan berbicara yang asal- asalan sebab dalam hukum negara yang salah maka harus di proses sesuai atur- aturan yang berlaku dalam hukum tersebut.
Machiavelli mengakui bahwa hukum yang baik dan tentara yang baik merupakan dasar bagi suatu tatanan sistem politik yang baik. Namun karena paksaan dapat menciptakan legalitas, maka dia menitikberatkan perhatian pada paksaan. Kadang bawahan hanya menerima perintah dari atas karena terpaksa karena seorang tentara awalnya baik akan menjadi jahat karena terpaksa menerimah perintah dari atasan yang tidak mempunyai jiwa sosial kenapa harus jiwa sisoal maka ia harus membuat sesuatu agar tidak menimbulkan keributan seorang pengusaha politik harus benar dalam berlangkah jika ia benar dalam berlangka jika salah maka akan menimbulkan kekacawan dan aparat yang tadinya baik pun akan terpaksah untuk memberontak karena.
Argumentasi Machiavelli dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa politik secara keseluruhan dapat didefinisikan sebagai supremasi kekuasaan memaksa.
Otoritas adalah suatu hak untuk memerintah.
Virtú, dalam konsepsi Machiavelli adalah kualitas personal yang dibutuhkan oleh seorang raja untuk mengelola negaranya dan meningkatkan kekuasaannya.
Raja harus memiliki kualitas agar bisa mengatur negaranya. Untuk dapat menjadi seseorang yang memiliki kualitas virtú, raja harus bersifat fleksibel (flexible disposition). Orang yang sesuai untuk memegang kekuasaan menurut Machiavelli adalah seseorang yang dapat melakukan berbagai tindakan dari yang baik hingga yang buruk.
Tindakan yang baik akan di lakukan oleh seorang penguasah adalah mensejatrakan masyarakat membantu masyarakat dalam mengalami musiba mislnya banjir seorang penguasah tersebut harus turun dan melihat situasi sosial yang ada dan masyarakat yang mengalami musiba tadipun akan merasa senang meskipun mereka mengalami musiba.
Memiliki Virtú berarti memiliki kemampuan atas segala aturan yang terkait dengan menjalankan kekuasaan secara efektif. Seorang penguasaha harus pintar-pintar membca situasi sosial dia harus adil dalam melakukan seauatu harus mensejatrahkan raktanya jangan membuat rakyatnya mersah di tindas atau mengambil paksah hak rakyat itu bukan seorang pemimpin yang baik.
Machiavelli mengakui bahwa hukum yang baik dan tentara yang baik merupakan dasar bagi suatu tatatan sistem politik yang baik. Namun karena paksaan dapat menciptakan legalitas, maka dia menitikberatkan perhatian pada paksaan. Mereka akan beritidak jika di suruh meskipu itu adalah salah contoh jika seorang penguasah salah dalam bertidak dan di kritiki oleh masyarakat maka penguasaha tersebut menyuruh aparat untuk melakukan kekerasan fisik kepada masyarakat tersebut karena masyarakat tersebut mengkritiki kesalahan seorang pengusaha tersebut

Post a Comment for "Secercah Pemikiran Machiavelli"