zmedia

Soekarno Ditengah Pusaran Perang Dingin (Bagian I)

Kunjungan Presiden Soekarno ke Amerika pada 1961 yang disambut oleh Presiden John F. Kennedy (Wikipedia)

Penulis : Arman Soleman

Kilas Balik Perang Dingin

Perang Dunia II yang terjadi tahun 1939 sampai 1945 dan dimenangkan oleh blok sekutu atas blok poros membuka konstelasi kekuatan baru. Perhatian dunia  terkuras pada dua negara adidaya Uni Soviet dan Amerika Serikat. Memiliki kekuatan militer dengan nuklir yang besar serta sistem politik yang berbeda seolah menjadi embrio perang dingin terjadi hingga pada pembentukan aliansi beberapa negara dengan kedua negara adidaya tersebut.

Meski sentuhan invasi tidak sempat terjadi namun nuansa hegemoni kedua negara begitu terasa. Memanasnya perseteruan tersebut saat konflik regional dibeberapa negara pecah seperti di tragedi Blokade Berlin, Perang Korea, Krisi Suez, Krisis Berlin, Krisis Rudal Kuba, Perang Vietnam, Perang Yim Kippur, Perang Afganistan serta lainnya terjadi.

Keterlibatan tersebut, lahir ketika terjadi deviasi penyebab konflik, seakan terjadi enigma namun ketika di telusur karena implusif memihak pada satu kubu. Seperti saat peristiwa krisis Rudal di Kuba. Setelah menguak fakta ternyata ada exogen dari Amerika hingga melahirkan kemarahan negara diktator diblok timur dan polemik itu hingga terjadi gesekan militer di Kuba yang dibantu Uni Soviet. 

Meski tak terjadi sentuhan militer langsung namun kedua negara adidaya terlibat dalam suplai senjata hingga aroma propaganda, spionaze begitu tercium dalam rangka memarginalisasi gerakan negara dengan aliansinya dan memboikot perluasan wilayah kekuasaan. Meski tidak secara implisit, seakan mendiskripsikan perang dua Ideologi Liberalisme dan Komunisme.

Beberapa negara yang terlibat seolah harus memilih untuk menentukan kiblat dengan warna perjanjian Blok Timur dengan PAKTA WARSAWA antara Uni Soviet, Albania, Cekoslovakia, Jerman timur, Hongaria, Polandia dan lainnya dan disisi Blok Barat dengan perjanjian NATO Amerika Serikat, Belanda, Inggris, Islandia, Portugal, Italia, kanada, Belgia, dan lainnya.

Suasana ini menjadi gelombang besar negara lain yang membutuhkan kekuatan untuk memajukan negerinya. Jika memilih diantara kedua blok pastinya akan terjadi embargo bahkan propaganda dari blok yang tidak terpilih. Ini tentu membuat setiap negara delimatis dalam menentukan posisi.

Berakhirnya perang dingin ini saat bedirinya PBB dan terjadi revolusi di Uni Soviet hingga menjadi Rusia dan beberapa negara lainnya. Namun perselisihan dua ideologi ini seakan menjadi Kontinuitas meski tidak secara implisit.

Meski Uni Soviet telah dibubarkan masih ada beberapa negara menjadikan komunisme sebagai sistem negara layaknya Republik Rakyat Tiongkok serta Korea Utara (Korut), Laos, Vietnam, Kuba dan lainnya.

Admin
Admin Tingkat pendidikan kita terus berkembang, tapi literasi kian anjlok, sajian informasi dipenuhi Sampah. Itu Meta Motivasi Kita Bergerak.

Post a Comment for "Soekarno Ditengah Pusaran Perang Dingin (Bagian I)"