![]() |
| Foto Google |
Apa yang hendak di cari jika dunia tak semestinya. Apa yang hendak di tengok jika kondisi tak semestinya. Sudah lumpuh aktualisasi diri terhadap kehidupan. Lupakah setiap kita beragama? Diterpa luapan segala kerisauan dari arus propaganda.
Banyak hendak kita perbuat, 2juta hutang setiap orang dibebankan kepada rakyat demi membayar hutang Negara. Hadiah mungkin yang tidak dilupakan masa perbutan kemerdekaan adalah tanggungan yang tak pernah usai.
Pajak serta retribusi cepat segera ditarik kepada rakyat namun tak ada manfaat. Ini menjadi sebuah tatanan biasa karena kita telah asimilisasikan dengan keadaan modern. Kebebasaan memaksa kita merangkak tanpa rasa.
Rakyat bak sapi peras yang diambil susunya. Untuk siapakah gerakan pundi-pundi rupiah ini kita akan dibayarkan. Permanian kurs dollar terhadap rupiah terus dipermainkan hingga setiap waktu pergeseran hutang sangat cepat bertambah dan berkurang.
Meratap kerja rakyat membayar hutamg yang tak tuntas. Kenapa kita tak terasa ? Karena semua pengambilan disisipkan dari semua perbelanjaan. Contoh pajak roko yang tinggi, pajak penjualan lainnya. Kita bahkan menjadi masyarakat yang sangat mundur karenakan nilai pertukaran.
Sistem barter dulu kian memudahkan, didoronglah satu alat sebagai tolak ukur untuk menghitung sebarapa berharga barang tersebut. Lantas uang menjadi tolok ukur pelbagai materi dan keinginan masyarakat.
Kini nilai tukar begitu tinggi karena dilapis dengan pajak. Apakah sistem tolak ukur itu menjadikan kita mundur dari masyarakat pendahulu. Nilai yang seharusnya rendah menjadi tinggi membuat keterbatasan masyarakat.
Memaksa pekerjaan menjadi solusi merauk uang, untuk membayar hutang negara. Apa yang hendak kita cari ? Kekayaan, keserakahan, atau penebusan Pekerjaan Rumah

Post a Comment for "Adakah Solusi Buat Kami ?"