Malam ini, ketika bulan telah berada di puncaknya.
Ketika waktu berganti seperti biasanya.
Kau menunggu waktu itu karena mengenang sejarah yang luar biasa adanya.
Sejarah tentang arti hidup, dimana kau lahir bagai malaikat kecil, membuka harapan baru bagi kedua orang tuamu.
Sejarah tentang sebuah penantian panjang dan pengorbanan abadi, hingga mendengar tangisan pertama dari sang buah hati
Tersenyumlah wahai dinda, terlalu indah syukurmu hingga memaksa bunga mekar dalam hatimu.
Meski hidup terus bergulir tanpa titik, dan menusuk dengan ribuan pertanyaan.
Tapi yakinlah suatu waktu kedepan, kau kan menjadi sesuatu yang paling diharapkan, dan membanggakan.
Maafkan jika kata ini tak seindah saat Jalaludin Rumi menggoreskan tinta demi puisinya, dan tak sehebat Kahlil Gibran bicara soal cinta.
Karena kata ini, hanya sekedar ingin mengucapkan selamat ulang tahun, meski tak berpengaruh untukmu, seperti pengaruh bom-bom atom Amerika di kota Hiroshima dan Nagasaki.
Tapi kata itu, lahir hanya untukmu, seperti Karl Marx ada untuk kaum buruh, atau Ki Hadjar Dewantara ada untuk pendidikan negeri ini.
Manado, 04 Mei 2018

Post a Comment for "Di Suatu Malam Tanpa Titik"