Oleh : Awin Buton
Tulisan ini
berupa pikiran-pikiran yang berserakan di media masa. Topik yang tersaji dalam
realita berkisar pada dua aspek tema utama: politik 'kekuasaan' dan
sosial/masyarakat. Dimana dua tema tersebut saya anggap sebagai diskursus yang
tak akan pernah "basi" dan kehilangan aktualitasnya. Oleh sebab itu,
saya menyinggung kali ini, tentu, banyak kekurangan dan tidak konprehensif,
namun. Bisa menjadi bacaan dongeng tidur kita semua. Sekalipun terkesan
provokatif, namun tulisan ini tidaklah bermaksud menyeruh pada satu agama atau
alement tertentu, melainkan menjadi acuan bagi seluruh agama dan gelombang
masyarakat pada umumnya yg berada didalam negeri nusantara ini, bahwa terkadang
keadilan/kebenaram harus diperjuangkan dari diri kita sendiri.
Membicarakn
keadilan dalam negara tak trlpas dari masyarakat, selama kurang lebih 32 tahun
terkungkung dalam rezim orde baru. Pasti rasanya tidak sah bila tidak
bersentuhan deng politik 'kekuasaan' sekarang. Karena itu, setiap saat
membicarakan keadilan sosial. seakan kekuasaan berada didepan, disamping dan
dibelakang, Kekuasaan mengikuti, mengintai, bahkan'menembak' untuk menghentikan
dengan segala kepentinganya. Reformasi 98 yang tak pernah terlupakan adalah
perjuangan atas nama rakyat terbesar yang pernah ada dinusantara.
Kini diera
Reformasi kekuasaan perlahan-lahan dikecam akibat kesadaran, di tambah adanya
dukungan massa dengan beragam element. Ormas, cendikiawan, mahasiswa dan
khalayak. Situasi sekarang ini memang relatif lain. Sedikit ada harapan bagi
kehidupan sosial agama dimana berani merembas masuk kedalam kekuasaan dan
menegur bukan bermaksud berada didepan kekuasaan, dengan berpegang kata
kebenaran berbalut keadilan, mampu melepas diri dari pantauan penguasa dengan
membuktikan pedulinya masyarakat terhadap dinamika negara yang terjadi. Dari
faktor beranjak dewasanya sosial dalam memposisikan agama dengan tujuan
positif. Membuktikan kata agama bukan sekedar asesoris negara, namun sebaliknya
mulai mendapatkan pijakan untuk berdiri dan mengawal, memantau, menilai
dinamika negara dengan perubahan berbungkus formula/solusi.
Dan sudah
semestinya masyarakat pada umumnya sadar dan bisa menempatkan sesuatu pada
tempatnya dan bahwa agama tidak mesti dipisahkan dengan urusan negara.
Manado 14 Desember 2016

Post a Comment for "Agama, Negara Satu Komponen"