![]() |
| Orkestra Alam |
Hari ini aku Matahari seperti takut mengusir malam dari kegelapan dan Angin kehidupan terlihat mulai mengobrak-abrik Samudera di Lautan, Cahaya kebenaran menjadi gelap dan Air kesucian mulai dikotori oleh tangan-tangan Besi. Di atas Tanah aku berjalan dan di bawah Langit aku bernaung, bernyanyi tanpa nada berlari dari keramaian karena kehidupan yang penuh Drama, tertawa bersama - bersama mereka yang mampu memenangkan hati. Ketika ia sedang gelisah, di tengah Realitas hidup yang semakin memburuk karena di tempat lain Rakyat menderita kesakitan karena hujan keadilan yang tak lagi bercucuran, maka tunggu Kemarau kehancuran akan menghampiri kita.
Membuka Mata melihat Peradaban, Reproduksi Sejarah penuh dengan Air Mata. Kemerdekaan hanya menjadi Bingkai negara, kini Demokrasi yang mulia direkayasa, negeri-ku sedang berduka, Rakyat diekspolitasi layaknya Penjajah. Suara dibungkam dan kebebasan mulai dirampas, kejujuran dan kebenaran tak lagi dijunjung Tinggi manusia dibunuh layaknya Binatang. Di bawah kaki penguasa negara menjadi milik segelintir orang dengan menuhankan Materi sebagai kiblat hidupnya sehingga, membuat manusia semakin serakah dan lupa diri. Dimana keadilan akan tumbuh, kalau kita terus memproduksi kebodohan dan kejaliman. Dengan teriakan Merdeka dan kebebasan suara manusia menjadi Roh di atas kegelapan yang menetupi cahaya kebenaran karena kegelisahan Hati melihat sang Raja yang duduk manis di Istana.
Lihatlah Bendera Merah Putih dan Burung Garuda yang melambangkan persatuan dan kesatuan, dan dengarlah suara para pendiri bangsa berteriak atas dasar keadilan dan kemerdekaan. Maka, Jagan menjadi Generasi yang mengotori Sejarah dengan tangan berlumuran Darah, dan jangan menjadi Pemimpin yang hanya ingin memuaskan Sahwat dan Nafsu belaka tapi jadilah Pemimpin yang kelak, diingat sepanjang masa karena kebaikan dan kebijaksaan-mu. lihatlah Ibu Pertiwi yang mengandung Pulau-Pulau di Nusantara tanpa memandang warna dan kulit yang berbeda. Dan Indonesia menjadi negara karena keberagaman antara suku, budaya, agama dan bahasa, jadi mari kita jaga kekayaan yang Tuhan berikan di bumi ini.
Sebagai mahluk yang Sempurna dan mulai jangan membuat Tuhan kecewa menciptakan kita, karena Langit dan Bumi beserta isinya Tuhan ciptakan untuk membuat keindahan di dunia. Jadi mari kita syukuri Anugerah yang Tuhan berikan kepada kita, serta Nafas kehidupan dan Rahmat yang tak henti-hentinya terus mengalir di dalam diri kita. Ingatlah bahwa kita hanya tamu di dunia ini jadi, jangan Sombong ketika diberi kepercayaan atau Jabatan karena bisa menjadi malapetaka ketika kita salah mengunakannya. Dan dibalik kehidupan ada kematian yang akan menyambut kita jadi mari mengevaluasi diri sebelum terlambat, percaya bahwa kehidupan ini hanya sementara dan tidak kekal karena semua yang bernyawa akan binasa.
Di Bulan yang Suci ini, mari kita membangun kembali keimanan dan ketaqwaan serta mempererat tali silaturahmi antar sesama umat manusia, karena di mata Tuhan kita semua sama sebagai mahluk ciptaannya. Dengan demikian kita lebih bebas bernafas tanpa harus terpenjara oleh lingkungan atau Stigma yang menyesatkan, dan jadilah generasi pembaharu yang bernafaskan kebenaran dan kejujuran di tengah pergolakan politik yang terjadi saat ini. Jadi mari kita ambil Hikmahnya dari fenomena ini agar kedepannya kita tidak menjadi Generasi yang buta ketika berjalan di masa depan, karena kehidupan di masa depan lebih berat dan menantang dari apa yang terjadi saat ini.
Sebagai generasi yang Modern, tentu kita memiliki tantangan tersendiri di tengah perkembangan Teknologi yang begitu pesat. Jadi Jagan sampai Teknologi yang memakan kita, jadi mari belajar untuk mengimbangi semua Aplikasi yang menjadi Panorama dunia saat ini agar kedepannya kita tidak dihegemoni. Dan kalau kita melihat Historis bangsa ini yang membuat kita kuat adalah persatuan, karena persatuan adalah senjata kita bisa merdeka. Dan persatuan yang membuat kita kuat dan solid untuk menciptakan sejarah baru, memang hidup perlu dinikmati. Maka, tersenyum kepada mereka yang merasa paling benar dan pintar agar kita tidak terjebak pada Hegemoni media yang menyesatkan.
Manado 30 Mei 2019
Sarifudin Tidore
Mahardika
Al biir.

Post a Comment for "Indonesia sepangal Surga yang dibakar dengan Api Negara"