![]() |
| gambar sumber google |
oleh : Arman Kant
Pada tahun 1918-1919 salah seorang inspirator menjalani masa pembuangan di Negara Belanda, dalam masa itulah dia menggunakan istilah yang sering kita peringati setiap tahunnya pada tanggal 20 Mei. Inspirator itu ialah Soewardi Soerjaningrat. Ialah orang yang dalam pembuangannya menulis pada Nederlandsch-Indie Oud & Nieuw sebagai berikut.
“Tanpa ragu kini saya berani menyatakan bahwa tanggal 20 Mei adalah Hari Indisch-nationaal (Indisch-nationale dag) atau Hari Kebangkitan Nasional"
Begitulah sepenggal tulisan Soewardi dalam pengasingannya. 20 Mei jelas merupakan tanggal berdirinya Organisasi Budi Oetomo pada tahun 1908. Subtantif dari berdirinya Budi Oetomo adalah membangkitkan rasa nasionalis atau persatuan dalam rangka melawan tirani penjajah belanda, karena tanpa persatuan gerakan perubahan hanya isapan jempol yang mungkin ada dalam pikiran para pejuang bangsa kala itu.
Namun, jika rasa nasionalis adalah indikator berdirinya Budi Oetomo saat itu organisasi tersebut hanya menerima anggota dari kalangan priyayi saja, karena Budi Oetomi didirikan oleh para mahasiswa Stovia atau kampus kedokteran zaman Hindia Belanda. Saat itu Budi Oetomo hanya organisasi yang bergerak dibidang sosial, ekonomi, dan budaya tanpa gerakan politik. Budi Oetomo sendiri terbuka untuk umum pada tahun 1920, dan ditahun 1935 organisasi tersebut bergabung dengan Partai Indonesia Raya guna bergerak dibidang politik untuk memperjuangkan aspirasi rakyat di Volksraad dan luar Volksraad.
Jika saat itu Budi Oetomo masih sangat eksklusif, nyatanya rasa nasionalis sudah lahir lewat organisasi lain, sebut saja Serikat Dagang Islam (SDI) yang berdiri untuk mempersatukan pedagang pribumi guna mengghentikan dominasi pedagang asing pada tahun 1905 di Pasar Laweyan, Solo oleh Haji Samanhudi dan akhirnya pada tahun 1906 berubah menjadi Serikat Islam (SI) dibawah kepemimpin HOS Tjokroaminoto dan berubah menjadi organisasi gerakan politik untuk memperjuangakan hak-hak rakyat. Tak hanya dari SI, persatuan ditemoat lain sehingga terbentuknya Muhammadiyah yang dibentuk oleh KH Ahmad Dahlan pada tahun 1912.
Sebelum 1920 Budi Oetomo meng-Inklusifkan diri rasa nasionalis sudah mulai bangkit dalam melawan kolonialisme dan imprealisme dibeberapa tempat. Meski Budi Oetomo bukanlah organisasi pergerakan nasional pertama namun Muhammad Hatta pada tahun 1958 menulis dimajalah Star Weekly jika Boedi Oetomo sudah mengandung ”kecambah semangat nasional”.
Namun, terlepas dari historis tadi, subtansi dari Harkitnas ialah mempersatukan bukan sekedar Seremonial peringatan semata, sebagaimana sikron dengan uraian diatas. Sebagaimana juga Harkitnas dirayakan pertama diera Presiden RI Soekarno, di Yogyakarta pada 1948 dan ketua panitia saat itu ialah Ki Hajar Dewantara dalam rangka mempersatukan rakyat yang sehabis terpecah akibat perbedaan politik guna melawan Penjajah Belanda saat itu. Mimentum Harkitnas ini, menjadi sakral disituasi saat ini demi mempersatukan rakyat akibat dari perbedaan pilihan dan atau haluan politik, karena perbedaan bukanlah ancaman tapi sebuah kekuatan sebagaimana slogan yang kita ketahui bersama Bhinneka Tunggal Ika. Sekiranya, tulisan ini bisa berguna bagi tuan dan nyonya sekalian.
refrensi / disadur :
Tribunnews
http://makassar.tribunnews.com/amp/2019/05/20/tribunwiki-begini-sejarah-hari-kebangkitan-nasional-diperingati-setiap-20-mei

Post a Comment for "Refkleksi Harkitnas : Persatuan Atau Seremonial"