foto Logo HMI (sumber:Google)
HMI Dalam Gelombang kekuasaan, Diterpa Dan Terbelah (1)
Disaat jam-jam mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (Sekarang Universitas Islam Indonesia) sedang melakukan perkuliahan, ada salah satu mahasiswa asal Tapanuli Utara melakukan pertemuan mendadak di jam kuliah. Diruangan yang seharusnya menjadi ruangan kuliah tafsir kini dijadikan ruangan pertemuan oleh mahasiswa semester satu tersebut.
Disaat dirinya masuk dalam ruangan, mahasiswa bernama Lafran Pane sontak berteriak “Hari ini adalah rapat pembentukan organisasi Mahasiswa Islam, karena semua persiapan yang diperlukan sudah beres.” Tepatnya pada tanggal 06 Februari 1947 lalu pemuda itu mendeklarasikan berdirinya organisasi bernafaskan islam berbasis mahasiswa dengan nama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Tepatnya pada 2 hari Indonesia merdeka, Organisasi dengan identik warna Hijau Hitam ini berdiri. Mungkin pada 6 februari 2023 HMI akan berumur tepat ke-76 tahun. Dengan iktikad awal pembentukan untuk mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat Rakyat Indonesia serta menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam.
Diumur yang ke-76 tentu telah banyak yang dilalui organisasi mahasiswa tertua ini. Banyak konflik, kepentingan serta badai yang menerpa. Hanya sejarah yang bisa berkisah bagaiamana kedewasaan HMI terbentuk. Heroiknya kader-kader HMI di setiap massa mampu bertahan dari gejolak dan tendensi tekanan yang luar biasa demi mempertahankan iktikad baik HMI berdiri.
GEJOLAK DENGAN CGMI 1965
HMI yang lahir dari nafas Islam tentu mengalami gejolak Ideologis, apalagi di tahun 1965 pertarungan ideologi berada pada puncak persaingan untuk menunjukkan eksistensi. Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) yang saat itu menjadi organisasi sayap dari Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah salah satu yang secara terang-terangan ingin membubarkan HMI.
Bahkan Gerakan CGMI yang begitu masif menggunakan kemesraan Ketua PKI DN Aidit dengan Presiden Republik Indonesia (RI) Pertama Ir. Soekarno untuk secara tegas membubarkan HMI. Di beberapa kesempatan DN Aidit dengan membara mengatakan CGMI harus mampu membubarkan HMI jika Pemerintah tidak mau membubarkannya.
"Kalau pemerintah tidak mau membubarkan HMI, jangan kalian (CGMI) berteriak-teriak menuntut pemerintah pembubaran HMI. Lebih baik kalian bubarkan sendiri,” kata Aidit pada buku yang tulis Julius Pour dengan judul Gerakan 30 September.
Tidak hanya argumen yang provokatif, tapi Aidit bahkan mencemooh CGMI jika tidak mampu membubarkan HMI. "Dan kalau kalian tidak mampu (membubarkan HMI), lebih baik kalian jangan memakai celana, tukar dengan kain sarung perempuan," Tegas Aidit.
Tekanan itu bahkan sampai pada elit pemerintahan saat itu. Presiden RI, Soekarno sempat mengajak Menteri Agama RI Saifuddin Zuhri untuk berbicara secara pribadi dan mendesak untuk membubarkan HMI.
MEMBELA HMI, SAIFUDDIN ZUHRI ANCAM MUNDUR DARI KABINET
Mungkin ini salah satu sikap heroik, yang kurang di bahas dikalangan HMI adalah sikap Saifuddin Zuhri (Ayah Lukman Hakim Saifuddin Menteri Agama 2014–2019). Disuatu moment Soekarno meminta meminta Saifuddin selaku menteri agama saat itu untuk membubarkan HMI. Namun permintaan itu ditolek olehnya. Bahkan mengatakan HMI saat ini berjuang demi Indonesia karena terbakar oleh pidato Presiden RI, Ir Soekarno.
"Mohon dipertimbangkan sekali lagi! HMI itu anak-anak muda. Mereka sudah termakan oleh pidato-pidato bapak di banyak peristiwa," kata Saifuddin, yang dijelaskan oleh Saifuddin sendiri pada buku berjudul, Berangkat dari Pesantren.
Setelah diskusi panjang yang terjadi antara Presiden RI. Ir Soekarno dengan Menteri Agama Saifuddin Zuhri, Soekarno pun mengurjngkan niatnya, dan tidak menyangka jika Pembantu dipemerintahannya itu mendukung HMI. "Bukan membela HMI, Pak! Saya tidak ingin presiden berbuat berlebihan. Itu termasuk tugas kami para pembantu presiden," kata Saifuddin.
Menurutnya, pembubaran kepada HMI tidak diperlukan, karena HMI sekelompok anak muda yang cukup untuk dibimbing. Bahkan untuk mengurungkan niatnya Soekarno Saifuddin Zuhri ingin mengundurkan diri. Karena sudah tidak sepemahaman dengan Soekarno jika HMI tetap dibubarkan.
Presiden Pertama Republik Indonesia (RI), Ir Soekarno (foto ist, sumber : Google)
"Kalau bapak hendak membubarkan HMI, artinya pertimbangan saya bertentangan dengan gewetan bapak. Maka tugasku sebagai pembantu bapak hanya sampai di sini, " tegasnya pada buku tersebut.
Badai yang menerpa HMI tidak hanya tentang perseteruan Ideologi. Jatuhnya orde Lama ke orde Baru yang dipimpin Soeharto sebagai Presiden RI kedua takkala saat Presiden Kedua itu penerangan asa tunggal yang menyatakan semua organisasi harus berideologi pancasila. Sedangkan HMI dilahirkan dengan nafas Islam, tentu ini menjadi pertentangan.
PERPECAHAN HMI
Hembusan kuan anti revolusioner oleh Soeharto membuat gerakan mahasiswa bahkan partai politik terkena dampak, dengan gaya kepemimpinan yang militeristik Soeharto menekan akan pemberlakuan asaz tunggal.
Hal itu juga berdampak pada HMI di Kongres ke-15 di Medan pada tahun 1983. Konflik internal sangat menyeruak diantara kader-kader HMI antara pro dan kontra untuk mengganti asaz tunggal dan menggantikan asaz Islam yang dipegang HMI sejak didirikan oleh Lafran Pane.
Kondisi itu makin mendesak, takkala Presiden Kedua menetapkannya pada suatu aturan yang berlaku hingga memilki kekuatan hukum. Alhasil, semua organisasi yang tidak sesuai dengan peraturan, salah satu poin dalam Ketetapan MPR No. II/MPR/1983 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara, dan kewajiban untuk partai disahkan pada tanggal 19 Februari 1985 melalui Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1985 tentang Partai Politik dan Golongan Karya, sementara untuk organisasi masyarakat landasan hukumnya adalah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan yang disahkan pada 17 Juni 1985, akan dibubarkan.
Pada posisi yang dilematis itu, HMI tentu memiliki ancaman dibubarkan jika tidak mengikuti pertarungan yang telah tuangkan. Alhasil pada pada tahun 1986, HMI memutuskan menerima asas tunggal Pancasila yang dijalankan oleh rezim Orde Baru.
Setelah pada kongres di padang diresmikan HMI mengikuti asaz tunggal. Sementara itu, ada sebagai kader yang menolak untuk menerima asaz tunggal. Keadaan itu membuat HMI terpecah menjadi dua HMI DIPO dan HMI MPO.
HMI DIPO diindentikan oleh HMI MPO karena sekretariat yang berada di jalan dipenigoro Jakarta, serta HMI yang menerima asaz tunggal menggantikan Islam.
Sedangkan HMI MPO, Atau Majelis Penyelamat Organisasi (MPO) adalah HMI yang tetap mempertahankan asaz Islam sebagai nafas gerakan sebagai yang diteguhkan Lafran Pane. Namun kedua belah pihak dalam bingkai yang sama untuk menyelamatkan organisasi. Meski, kontroversi akan terbelahnya HMI mesih saja menjadi perdebatan.
MPO yang memilih dan memiliki jalan sendiri tentu mendapatkan konsekuensi atas pilihannya, harus memainkan peran dibayang-bayang pembubaran oleh aparat saat itu, karena dianggap sebagai organisasi HMI yang tidak diakui pemerintah. Kondisi itu, membuat ruang gerak terbatasi sehingga MPO yang telah memiliki strukturnya sendiri dengan DIPO bertumbuh dengan pelan, sangat berbeda dengan saudara serahim DIPO.
Bahkan di beberapa daerah masih menganggap HMI hanya satu, yakni HMI yang tidak lain adalah HMI DIPO. Perjuangan kader-kader MPO saat itu menjadi sejarah yang diceritakan dari mulut ke mulut hingga saat ini. Pada dasarnya MPO tidak menolak Pancasila namun menolak tindakan pemaksaan Rezim yang otoriter menggunakan tangan besi untuk menyatukan asaz tanpa proses dealitika.


Post a Comment for "HMI Dalam Gelombang kekuasaan, Diterpa Dan Terbelah (1) "